Temu Alumni Sanata Dharma, Gubernur NTT: Kita Butuh Apoteker yang Punya Nyali Untuk Melangkah


JOGYAKARTA - Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena didampingi istri tercintanya Asty Laka Lena yang juga keduanya alumni Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, dalam acara temu alumni di Kampus III USD, Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. 

Acara tersebut dalam rangka memperingati 30 tahun dan Lustrum 6 Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada Sabtu, 14 Juni 2025. 

“Saya berdiri di sini bukan hanya untuk memberi sambutan, tapi menyampaikan sebuah kesaksian,” ujarnya Gubernur NTT, mengawali orasi ilmiah dalam Puncak Lustrum VI Fakultas Farmasi, kampus yang melahirkannya sebagai sarjana farmasi dan apoteker lebih dari dua dekade lalu.

Menenun Ilmu dan Pengabdian
Melki muda dulu datang dari Kupang, dengan tas berisi buku, mimpi, dan harapan. Ia mengingat jelas ruang-ruang kuliah, malam-malam panjang menyusun laporan praktikum, dan diskusi hangat di lorong kampus yang tak hanya membentuk kecakapannya di bidang kefarmasian, tapi juga nilai hidup. “Saya belajar tentang etika, cinta kasih, dan keberpihakan kepada yang kecil dan terpinggirkan,” kata Melki.

Nilai-nilai itulah yang menurutnya membentuk arah hidupnya kelak, dari aktivis PMKRI, tenaga ahli di Kementerian ESDM, anggota dan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, hingga kini menjadi pemimpin provinsi yang berbatasan langsung dengan Australia dan Timor Leste. “Semua itu bermula dari USD,” ia menggarisbawahi.

Farmasi sebagai Gerakan Sosial
Lebih dari sekadar ilmu tentang senyawa dan dosis, farmasi baginya adalah ruang pengabdian. Sebab itu, ketika dipercaya memimpin Panitia Kerja RUU Kesehatan, yang kini telah disahkan menjadi UU Nomor 17 Tahun 2023, Melki memastikan profesi kefarmasian tak hanya disebut, tapi diperkuat peran strategisnya.

“Tenaga kefarmasian bukan sekadar pelengkap di sistem kesehatan. Mereka adalah ujung tombak pelayanan publik yang adil,” katanya lantang. Spirit sinergi antar profesi, menurutnya, adalah satu-satunya cara untuk memperkuat sistem kesehatan nasional. “Sinergi bukan duduk bersama dalam forum, tapi saling mendengarkan dan mendukung,” ujarnya.

Sebagai Gubernur, ia menerjemahkan semangat itu dalam kerja nyata: membangun rumah sakit pratama lengkap dengan listrik dan air bersih, memperkuat posyandu dan imunisasi sekolah, hingga menyinergikan program gizi dengan pemberdayaan ekonomi lokal. Di NTT, pembangunan kesehatan tak berdiri sendiri, ia terkait dengan infrastruktur, pendidikan, bahkan pertanian dan UMKM.

Kepemimpinan yang Hadir
Melki menolak gaya kepemimpinan yang dingin dan birokratis. Ia lebih suka hadir langsung ke desa-desa, menyapa bidan dan kader kesehatan, dan menanyakan langsung kepada warga apa yang mereka butuhkan. “Kita tidak tunggu perubahan dari pusat. Kita mulai dari bawah, dari komunitas, dari keluarga yang ingin keluar dari ketertinggalan,” ujarnya.

Dalam perspektifnya, apoteker bukan hanya ilmuwan, tetapi pelayan. Mereka harus berani keluar dari laboratorium dan masuk ke masyarakat. “Kita butuh apoteker yang punya nyali untuk melangkah,” katanya, disambut tepuk tangan meriah dari para mahasiswa yang duduk di baris depan.

Dari Tanaman Obat ke Masa Depan Kesehatan
Salah satu program unggulan yang kini dikembangkan di NTT adalah hilirisasi tanaman obat lokal. Melki mendorong para apoteker muda untuk tidak hanya membuka apotek di kota, tapi menjadi penggerak di komunitas: mendidik, memberdayakan, dan menyentuh kehidupan nyata. “Jangan hanya jadi dispenser technician,” sindirnya setengah bercanda. “Jadilah pelayan masyarakat.”

Orasinya ditutup dengan refleksi penuh harapan. Bagi Melki, usia tiga dekade Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma bukan hanya catatan sejarah institusi, tapi cerita tentang karakter, nilai, dan keberanian untuk peduli. “Kesehatan yang bermartabat tak akan lahir dari diam,” katanya. “Ia menuntut keberanian untuk melangkah dan komitmen untuk mengubah keadaan dari akar.”

Hari itu, aula kecil di kampus Sanata Dharma bukan hanya menjadi ruang nostalgia. Ia menjadi ruang pengingat bahwa ilmu bisa mengubah dunia, jika dibarengi keberanian untuk bergerak.*(LLT)

Posting Komentar

Komentar Anda .....

Lebih baru Lebih lama
papillonnews

نموذج الاتصال