Search Suggest

Gubernur Dorong Pemanfaatan Tanam di Lahan Tidur Berbasis Teknologi Israel


KUPANG - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena secara aktif mendorong pemanfaatan lahan tidur/kosong menjadi lahan produktif untuk memperkuat ketahanan pangan daerah. 

“NTT masih memiliki banyak lahan tidur. Kita perlu membuka dan mengoptimalkan lahan-lahan tersebut untuk menjawab kebutuhan produksi pangan, baik untuk NTT sendiri maupun untuk mendukung program swasembada pangan nasional,” ujar Melki.

Hal tersebut, Gubernur Melki saat melakukan pertemuan virtual bersama petani milenial alumni Arava International Agricultural Training Center (AICAT) Israel di Rumah Jabatan Gubernur NTT, Sabtu (14/3/2026).

Menurut Gubernur NTT saat ini salah satu fokus pembangunan NTT, diarahkan untuk peningkatan sektor pertanian dalam mendukung program swasembada pangan Nasional.

Pertemuan itu bertujuan membuat NTT tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri, tetapi juga mampu berbagai komoditas pertanian ke berbagai daerah di luar NTT.

"NTT memiliki potensi besar untuk sektor pertanian, mengingat hingga saat ini lahan tidur yang bisa dikembangkan masih cukup luas, hanya belum dimanfaatkan secara maksimal," katanya.

Ia juga mengatakan sejumlah komoditas seperti padi, jagung, bawang putih, jahe, serta asam. Dan perlu di evaluasi produksinya mencapai optimal.

“Kita perlu mengecek kembali produksi yang sudah ada, apakah sudah mencapai tingkat ideal atau belum. Jika belum, maka harus kita tingkatkan dengan teknologi dan metode yang lebih baik,” ujarnya.

Melki menekankan bahwa peningkatan produksi tidak hanya berkaitan dengan kuantitas, tetapi juga kualitas hasil pertanian. Menurut dia, kualitas produk sangat menentukan nilai jual di pasar.

“Produksi harus meningkat, tetapi kualitasnya juga harus bagus. Kalau beras yang kita hasilkan berkualitas baik, tentu harganya juga lebih baik. Begitu juga komoditas lainnya,” tambah dia.

Ke depan, kata Melki, kita harus ubah skema itu. Bukan lagi hanya tanam, panen, jual, tetapi menjadi tanam, panen, olah, kemas, lalu jual. Menurutnya ada nilai tambah bagi petani.

Meski begitu ia beberkan tentang  negara Israel yang berhasil mengembangkan teknologi pertanian dan hilirisasi produk secara efektif.

“Kita bisa belajar dari Israel yang mampu mengembangkan teknologi pertanian secara luar biasa dan menghasilkan berbagai produk bernilai tambah tinggi, bahkan dari lahan yang terbatas,” bebernya.

Karena itu, ia mendorong terbangunnya koneksi antara alumni AICAT dengan pemerintah daerah, kelompok tani, penyuluh pertanian, serta berbagai pihak lain untuk memperkuat ekosistem pertanian di NTT.

Menurut dia, teknologi yang dimiliki para alumni AICAT harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian di NTT.

“Kita fokus pada peningkatan produksi dan hilirisasi. Teknologi yang kita gunakan harus mampu meningkatkan nilai produksi kita,” sebut Melki.

Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun ekosistem pertanian yang terintegrasi agar seluruh proses, mulai dari produksi hingga pemasaran, dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Kita harus membangun ekosistem yang kondusif sehingga produksi, pengolahan, dan pemasaran bisa saling terhubung,” tandasnya.

Melki juga menyoroti masih banyaknya lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk lahan milik pemerintah maupun lembaga pendidikan.

Ia meminta agar lahan-lahan tersebut dimanfaatkan untuk mendukung program pengembangan produk unggulan daerah, termasuk program One School One Product (OSOP) di sekolah.

“Kebun dinas masih banyak yang kosong. Begitu juga lahan di SMA dan SMK. Kita harus dorong agar semua lahan itu dimanfaatkan untuk produksi,” lanjut dia.

Menurut Melki, lahan milik sekolah, lembaga keagamaan seperti gereja dan masjid, serta aset pemerintah tidak boleh dibiarkan tidak produktif.

“Tidak boleh ada lahan yang dibiarkan tidur. Kalau soal bibit, pupuk, dan alat mesin pertanian, pemerintah provinsi siap mengupayakannya melalui Dinas Pertanian,” terangnya.

Melki berharap forum pertemuan dengan alumni AICAT tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi dan mencari solusi bersama bagi pengembangan pertanian di NTT.

“Saya berharap melalui forum ini kita bisa mencari solusi bersama dan bekerja dengan semangat yang sama. Jika kita terhubung dan bersinergi, maka target peningkatan produksi pertanian di NTT akan lebih mudah dicapai,” pungkas Melki.

Penutup, Melki juga mengapresiasi kinerja para penyuluh pertanian, petani, serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan yang dinilai telah bekerja keras meningkatkan produktivitas pertanian NTT hingga masuk dalam lima besar nasional.