PAPILONNEWS.COM, ENDE - Ruas jalan yang menghubungkan kecamatan Ndona dan Ndona Timur, Kabupaten Ende, NTT yang dikerjakan oleh rekanan perusahaan swasta PT. Bina Citra Teknik Cahaya (BTCT) Tahun Anggaran 2025 dinilai buruk dan, dianggap kerja tidak profesional ditahap finishing pada pengerjaan paket kegiatan Penanganan Long Segment Ruas Jalan Ndona - Sokoria (PLTP Sokoria) yang menggunakan sumber anggaran APBD.
Hal ini disampaikan oleh sala seorang masyarakat Desa Kelikiku, Kecamatan Ndona Aloysius Setu yang sering melewati jalur tersebut saat menuju kota Ende begitu juga , sebaliknya. Ende, Rabu 25/03/2026.
Dikatakan Aloysius, finishing jalan hotmix ruas Ndona - Sokoria, muka hotmix bergelombang dan dititik Aekipa - Sokoria kondisi finishingnya memperihatinkan karena, ada hotmix yang kondisi sekarang sudah terbelah. Aloysius Tambahkan, sebelum pengerjaan hotmix sudah ada rabat beton yang dikerjakan swadaya oleh masyarakat, selama pengerjaan selalu dilintasi alat berat milik PT. BCTC tapi setelah pengerjaan rabat beton hasil swadaya masyarakat tidak diperbaiki, malah dibiarkan.
"Kami masyarakat merasa kecewa dengan rekanan PT. BCTC. Setelah pengerjaan hotmix ruas jalan Ndona - Sokoria, minimal jalan rabat beton hasil swadaya diperbaiki karena selama pengerjaan hotmix alat berat ini melintasi sehingga menyebabkan jalan rabat beton banyak yang rusak", ungkapnya.
Sementara itu, Aloysius menambahkan, kurang lebih ratusan meter pada titik jalan Aekipa - Sokoria yang dikerjakan oleh PT. BTCT pengerjaan hotmixnya langsung dilapisi diatas rabat beton hasil swadaya masyarakat sehingga material agregat tidak digunakan.
Ia juga mempertanyakan, kualitas pengerjaan Penanganan Long Segment Ruas Jalan Ndona - Sokoria (PLTP Sokoria) oleh rekanan PT. BTCT yang menelan anggaran sebesar Rp. 6.845.014.000,00 (enam milyar delapan ratus empat puluh lima juta empat belas ribu rupiah) volume pengerjaan 2,94 KM dengan hasil jalan hotmix bergelombang, hotmix terbelah, ketebalan hotmix yang diduga hanya 1 cm, rabat beton bahu jalan banyak rusak serta drainase yang tidak jelas.
"Ini pengerjaan hotmix atau apa? Jangan sampai ada praktek Mark up pada item pengerjaan jalan ini. Masa, anggaran 6,8 M rupiah dengan volume pengerjaan 2,94 KM kok hasilnya hanya tebal hotmix 1 CM dan, rabat beton bahu jalan buruk serta hotmix terbelah dan, bergelombang? Aneh ini" tanyanya.
Diketahui secara kasat mata dari penelusuran media ini, finishing aspal hotmix bergelombang, diduga tebal hotmix 1 cm, campuran material hotmix tidak sesuai spack sehingga banyak pori pori pada fisik jalan hotmix, juga ada yang terbelah serta rabat beton bahu jalan banyak yang rusak dan saluran drainase yang sudah digali dibiarkan terlantar tidak ada pengerjaan lanjutan. Volume pengerjaan yang tertera di papan informasi 2,94 kilometer (Km). Diduga pengerjaan yang dilakukan tidak sesuai RAB.
Aloysius meminta, pihak Satker PJN wilayah IV harus bertanggung jawab dengan finishing jalan hotmix yang dikerjakan oleh rekanan PT. BTCT jika tidak dilakukan dirinya meminta agar pemerintah propinsi jangan mempercayai lagi rekanan tersebut karena dianggap tidak bertanggung jawab dalam kualitas hasil kerja dan menimbulkan kekecewaan masyarakat. Sementara, dari papan informasi yang dipasng pihak konsultan pengawas tidak dituliskan.
