Search Suggest

Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Ayo Bangun NTT


KUPANG - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi meluncurkan buku “Asa dan Rasa: Refleksi Setahun Ayo Bangun NTT” dalam forum diskusi di Aula Utama El Tari Kupang, Kamis (9/4/2026).

Peluncuran buku ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga ruang refleksi terbuka bagi publik untuk mengevaluasi perjalanan satu tahun kepemimpinan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma NTT.

Hadir dalam kegiatan tersebut berbagai unsur masyarakat, mulai dari Forkopimda, DPRD, tokoh agama, akademisi, organisasi kepemudaan hingga insan pers.

Dalam sambutannya yang tertuang dalam buku tersebut, Gubernur NTT Laka Lena menegaskan bahwa satu tahun kepemimpinan merupakan fase awal untuk meletakkan fondasi pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Buku ini menjadi catatan perjalanan sekaligus pertanggungjawaban moral kami kepada seluruh masyarakat NTT.

“Satu tahun memang belum cukup untuk mengubah segalanya, tetapi ini adalah langkah awal untuk menegaskan arah dan komitmen pembangunan,” ujar Gubernur.

Ia menekankan bahwa pembangunan di NTT tidak boleh bersifat elitis atau tersentralisasi, melainkan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Pemerintah mengaku lebih banyak mendengar dan bekerja bersama masyarakat untuk memastikan kebijakan yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

Gubernur Melki Laka Lena menyebutkan untuk meningkatkan kinerja jajarannya di tahun yang baru ini, akan dilakukan evaluasi berkala kepada para ASN serta Perangkat Daerah yang tentunya hal tersebut akan dilakukan secara objektif melalui berbagai instrumen seperti penataan birokrasi, serta penajaman perencanaan program prioritas baik pusat dan daerah yang menyasar pada wilayah-wilayah tertinggal dengan tingkat angka stunting dan kemiskinan ekstrem yang masih tinggi.

Gubernur juga menegaskan selain penilaian / pemeriksaan internal pemerintah, bahwa perjalanan pemerintahan Melki-Johni sepanjang tahun 2025 hingga ke depannya perlu dievaluasi secara transparan dan objektif salah satunya melalui survei publik serta penulisan dari pihak – pihak dengan berbagai latar belakang sebagai landasan evaluasi dan refleksi kinerja.

Semangat Ayo Bangun NTT, menurutnya, bukan sekadar slogan, tetapi ajakan moral agar setiap warga merasa dilibatkan dan memiliki peran dalam pembangunan daerah.

Program Melki-Johni 

Pemerintah telah mendorong pertumbuhan yang tidak hanya tercermin dalam angka, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Program seperti OVOP (One Village One Product), OCOP (One Community One Product), OSOP (One School One Product), NTT Mart, hingga Dapur NTT menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi dari desa dan pelaku usaha kecil.

“Ekonomi harus tumbuh dari tangan-tangan rakyat, agar manfaatnya tidak terpusat, tetapi menyebar dan menguatkan kehidupan masyarakat,” demikian salah satu penegasan dalam buku tersebut.

Di sisi lain, pemerintah juga menyoroti pentingnya pemerataan layanan dasar. Kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur disebut sebagai prasyarat utama untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif, terutama di tengah keterbatasan fiskal daerah.

Ia juga menegaskan, tidak boleh ada masyarakat yang tertinggal hanya karena keterbatasan akses. Negara harus hadir hingga ke wilayah terjauh agar keadilan sosial benar-benar dirasakan.

Melalui peluncuran buku “Asa dan Rasa”, Pemprov NTT berharap masyarakat dapat memahami arah kebijakan yang sedang dijalankan sekaligus memperkuat komitmen bersama untuk membangun NTT yang lebih inklusif, sehat, cerdas, dan sejahtera.

“Pembangunan adalah kerja bersama. Tidak boleh ada yang tertinggal dalam perjalanan menuju NTT yang lebih maju,” pinta Gubernur.

Sementara itu, Ketua DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT), Emelia Nomleni menyampaikan buku tersebut tidak sekadar menjadi kumpulan laporan kerja, tetapi harus menjadi refleksi jujur atas perjalanan kepemimpinan Melki-Johni.

“Buku ini untuk siapa dan bedahnya untuk apa? Apakah sekadar kumpulan hasil kerja, atau benar-benar refleksi perjalanan satu tahun? Ini penting supaya kita tahu arah ke depan,” tegas Emelia.

Ia mengapresiasi keberanian menghadirkan buku tersebut sebagai ruang evaluasi terbuka. Menurutnya, budaya refleksi seperti ini jarang dilakukan dalam pemerintahan.

“Ini budaya baik. Biasanya kita hanya omong-omong saja, tapi ini adalah keberanian untuk membiarkan diri menyampaikan kelebihan dan kekurangan. Ini menjadi delegasi yang baik untuk ke depan,” ujarnya.

Dia juga memberikan perhatian khusus pada peran perempuan dalam pembangunan.

Dalam ulasannya terhadap isi buku, Emelia menyoroti sejumlah catatan penting, mulai dari isu perlindungan perempuan dan anak, kemiskinan, hingga kelompok rentan. 

Ia juga mempertanyakan belum dilibatkannya sejumlah tokoh perempuan dalam narasi buku tersebut.

“Pertanyaannya, mengapa tokoh-tokoh seperti Ibu Asti Laka Lena, Ibu Vera Asadoma, dan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan tidak dilibatkan dalam pembahasan ini,” tindinya.

Di akhir penyampaiannya, Emelia mengajak seluruh pihak untuk tidak menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan daerah. 

Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan Melki-Johni masih memiliki waktu empat tahun ke depan untuk mewujudkan berbagai target.

“Sebagai pemimpin, tentu tidak berdiri sendiri. Kita semua punya tanggung jawab. Jangan menyerah walaupun dalam kondisi sulit. Mari kita bangun NTT bersama,” tandasnya.