KUPANG - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena, menghadiri Rapat Kerja Terpadu Pimpinan Perguruan Tinggi yang digelar di Hotel Harper Kupang, Selasa (5/5/2026) pagi.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Membangun Sinergitas Pendidikan Tinggi, Pemerintah Daerah, dan Industri dalam Rangka Akselerasi Pembangunan di NTT.”
Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa NTT memiliki potensi sumber daya alam, budaya, dan ekonomi yang sangat besar, namun belum sepenuhnya didukung oleh ekosistem riset dan inovasi yang terintegrasi.
“Kita memiliki begitu banyak potensi, mulai dari pertanian, peternakan, kelautan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif. Tantangannya adalah bagaimana potensi besar ini bisa dikembangkan dengan pendekatan ilmiah, berbasis data, riset, dan inovasi. Karena itu, dunia kampus harus terkoneksi lebih kuat dengan kebutuhan riil pembangunan daerah,” ujar Melki.
Gubernur juga mendorong para akademisi dan peneliti di NTT untuk lebih aktif memanfaatkan berbagai skema pendanaan riset yang disiapkan pemerintah pusat. Menurutnya, semakin banyak riset yang lahir dari kampus-kampus di NTT, maka semakin besar pula peluang daerah ini melahirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan dunia industri harus diwujudkan secara nyata melalui penyelarasan program, penguatan riset terapan, serta pengembangan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan potensi daerah.
“Mari kita jadikan forum ini sebagai ruang strategis untuk memperkuat komitmen bersama. Perguruan tinggi harus menjadi gerbong utama dalam melahirkan inovasi, riset terapan, dan gagasan-gagasan yang membumi serta menjawab kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala BRIN Republik Indonesia di NTT.
“Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, saya menyampaikan selamat datang dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Prof. Arif Satria yang telah berkenan hadir untuk memberikan dukungan dan kontribusi pemikiran dalam upaya memperkuat pembangunan berbasis riset di NTT,” tambah Melki.
Sementara itu, Kepala BRIN, Prof. Arif Satria, menekankan bahwa kekuatan bangsa di masa depan tidak lagi hanya bertumpu pada kekayaan sumber daya alam, tetapi sangat ditentukan oleh kemampuan inovasi, penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi.
“Kekuatan negara ke depan bukan lagi sekadar pada sumber daya alam, tetapi pada kemampuan menghasilkan inovasi dan teknologi. Indonesia saat ini menunjukkan tren positif dalam pengembangan inovasi dan paten, meskipun secara global kita masih perlu bekerja lebih keras,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan data permohonan paten dunia tahun 2024, posisi Indonesia saat ini berada di peringkat ke-34 dunia. Capaian tersebut menunjukkan perkembangan positif, namun masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing dengan negara-negara maju seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.
Dalam forum tersebut, Arif juga menekankan pentingnya diferensiasi peran perguruan tinggi, baik sebagai teaching university, research university, maupun entrepreneurial university, agar kontribusi masing-masing kampus lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan pembangunan daerah dan nasional.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Adrianus Amheka, melaporkan perkembangan perguruan tinggi di wilayah Nusa Tenggara Timur. Saat ini terdapat 57 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di bawah koordinasi LLDIKTI Wilayah XV, dengan jumlah mahasiswa mencapai 79.003 orang dan dosen aktif sebanyak 3.118 orang, termasuk 18 guru besar.
Dari sisi kualifikasi akademik dosen, sebanyak 312 orang atau 10,9 persen telah bergelar doktor (S3), sementara 2.737 orang atau 87,8 persen bergelar magister (S2). Untuk status akreditasi institusi, sebanyak 23,6 persen perguruan tinggi telah meraih akreditasi Baik Sekali, sedangkan 74,5 persen lainnya berstatus akreditasi Baik.
Melalui forum ini, Pemerintah Provinsi NTT berharap terbangun kolaborasi yang semakin kuat antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan lembaga riset, sehingga pendidikan tinggi di NTT tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga menjadi motor penggerak inovasi dan pembangunan daerah secara berkelanjutan.
