KUPANG – Kinerja PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Kota Kupang menuai sorotan tajam dari masyarakat Kelurahan Fatubesi, Kecamatan Kota Lama.
Pasalnya, kabel listrik bertegangan tinggi milik perusahaan negara tersebut dibiarkan bergelantung rendah di jalan tertutup ranting pohon tepat di mata air Oeba Jalan Alor arah Pasar Oeba.
Menurut keterangan Anus Haba, kondisi kabel listrik tersebut sangat membahayakan keselamatan warga, khususnya anak-anak dan orang tua yang setiap hari keluar masuk ke pasar.
"Kalau ada mobil atau motor ke pasar Oeba pasti hindari kabel itu hingga terjadi macet. Apalagi Mobil besar seperti truk atau lainnya pasti ada bunyi benturan keras hingga tiang penyangga kabel bergetar hebat kayak mau roboh saja," ujar Anus, Jumat (24/07/2026).
Anus juga sampaikan benturan keras dari mobil besar tersebut membuat kabel terkelupas terlihat isi tembaga.
"Petugas PLN datang hanya saja cuma tutupi kebel terkelupas dengan lakban, terus pulang tanpa perbaikan yang berarti," kata Anus.
Kami sangat menyayangkan sikap PLN Kupang yang terkesan mengabaikan keselamatan warga. Kami masyarakat ke pihak kelurahan Fatubesi juga sudah disampaikan. Namun hingga kini, tidak ada tanggapan berarti dari pihak PLN.
"Kami juga sudah kasih tahu pegawai kelurahan. Kata dia pihak kelurahan akan telpon ke PLN Kupang," tambahnya.
Anus mengaku masyarakat setempat juga sudah beberapa kali menanyakan perkembangan perbaikan tersebut kepada PLN dan Kelurahan Fatubesi namun jawaban yang diterima selalu sama nanti saya tanyakan kembali.
"Kami sudah minta untuk perbaikan kabel serta di perkuat tiang listrik di jalan Alor. Hingga kini, tidak ada tanggapan berarti dari pihak PLN," lanjut dia.
Kabel PLN terlihat rendah tertutup ranting pohon. Ketika dilaporkan kembali melalui pesan WhatsApp kepada PLN Kota Kupang jawaban yang diterima masyarakat hanyalah, “Masukkan saja surat permohonan ke PLN.”
“Pesan WhatsApp sudah kami ajukan jauh-jauh hari. Apalagi yang mereka tunggu? Apakah harus ada korban dulu baru diperbaiki?” tegas Lito dengan geram.
Ia juga menuding bahwa PLN hanya aktif ketika membeli token listrik di potong pajak, tapi lalai dalam pelayanan dan pemeliharaan infrastruktur kelistrikan.
“Kalau warga telat bayar sehari saja, langsung ada surat peringatan. Tapi kalau kabel semrawut dan memadamkan listrik berhari-hari, mereka diam saja,” tambahnya.
Masyarakat pun mendesak agar pimpinan PLN Pusat turun tangan mengevaluasi kinerja PLN Kupang, serta mengaudit penggunaan anggaran pemeliharaan kabel dan tiang listrik di wilayah tersebut.
Sementara itu, beberapa warga di sekitar mata Air Oeba yang ditemui media ini juga mengeluhkan hal yang sama.
"Kami takut anak-anak kira itu permainan bergelantungan di kabel itu, takut kena setrum. Kabelnya sangat rendah dan membahayakan,” lirih seorang warga yang enggan disebut namanya.
Masyarakat berharap pemberitaan ini dapat membuka mata pihak terkait agar segera melakukan tindakan konkret demi keselamatan bersama.


