Search Suggest

Skema Ambil Dulu, Bayar Kemudian Bernanfaat bagi Korban Gempa Flores

Foto Yustina Go

KUPANG - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menegaskan bahwa kebijakan “ambil dulu, bayar kemudian” dalam penanganan gempa Flores mulai dirasakan manfaatnya oleh warga terdampak.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam kebijakan tersebut merupakan langkah darurat untuk memastikan kebutuhan seperti makanan, minuman, tenda dan selimut tetap tersedia ketika bantuan belum mencukupi. 

Kebijakan tersebut mulai dirasakan manfaatnya di Desa Ladolima, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo. Bagi masyarakat dan aparat desa, kebijakan itu bukan sekadar aturan administratif, melainkan solusi praktis ketika kebutuhan warga sudah mendesak sementara bantuan belum sampai.

Aparat Tidak Lagi Menunggu 

Sekretaris Desa Ladolima, Hilarius Biku, mengatakan kebijakan tersebut membantu pemerintah desa menghadapi situasi darurat di lapangan. Pemerintah desa tidak harus menunggu seluruh bantuan dari pemerintah atau lembaga lain tiba untuk memastikan kebutuhan pangan warga terpenuhi.

Menurut Hilarius, keberadaan kios di sekitar permukiman justru menjadi kekuatan yang dapat segera dimanfaatkan ketika kondisi darurat terjadi.

Warga yang membutuhkan makanan dapat memperoleh barang dari kios terdekat. Dengan demikian, kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat dipenuhi sembari pemerintah mengatur proses bantuan dan pertanggungjawaban pembayarannya.

Bagi aparat desa, mekanisme itu juga memberi kepastian bahwa masyarakat memiliki pilihan ketika jalur distribusi bantuan belum sepenuhnya pulih.

“Ini sangat membantu masyarakat. Warga tidak harus menunggu bantuan datang apabila kebutuhan mereka sudah mendesak,” ujar Hilarius.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Melki Laka Lena karena kebijakan tersebut memberi perhatian hingga ke tingkat desa, terutama wilayah yang menghadapi keterbatasan akses dalam situasi pascabencana.

Kebijakan yang terasa di tingkat warga

Dampak kebijakan tersebut paling mudah dilihat dari perubahan sederhana yang dialami warga. Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada waktu kedatangan bantuan dari luar desa.

Ketika kebutuhan pangan tersedia di kios setempat, warga dapat memperolehnya lebih dahulu. Hal ini membuat masyarakat memiliki ruang untuk bertahan dalam masa-masa awal tanggap darurat, ketika akses jalan, distribusi logistik, dan pelayanan publik belum sepenuhnya kembali normal.

Kepala Dusun D, Kanisius Biku, juga menilai kebijakan tersebut membantu masyarakat. Dalam situasi bencana, kebutuhan sehari-hari tidak dapat ditunda hanya karena distribusi bantuan membutuhkan waktu.

Kebijakan itu sekaligus menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak selalu harus menunggu bantuan dalam bentuk paket logistik. Sumber daya yang sudah tersedia di tengah masyarakat dapat terlebih dahulu digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga.

Salah satunya adalah kios milik Yustina Go. Kios tersebut menjadi salah satu titik yang dapat dimanfaatkan warga untuk mendapatkan kebutuhan pangan selama masa tanggap darurat.

Memperpendek jarak antara kebutuhan dan bantuan

Kebijakan Gubernur NTT tersebut diatur melalui Surat Edaran Gubernur NTT Nomor BU.300.2.1/04/BPBD/2026 mengenai pemenuhan kebutuhan makanan, minuman, tenda, dan selimut pada hari kejadian bencana sebelum adanya bantuan.

Substansi kebijakan ini menjadi penting karena dalam penanganan bencana, persoalan tidak selalu terletak pada ada atau tidaknya bantuan. Persoalannya sering kali adalah kapan bantuan tersebut tiba dan apakah sudah menjangkau seluruh warga yang membutuhkan.

Dengan mekanisme tersebut, pemerintah mencoba memperpendek jarak antara kebutuhan warga dan respons pemerintah.

Di satu sisi, warga memperoleh kebutuhan dasar terlebih dahulu. Di sisi lain, pemilik kios tidak dibiarkan menanggung sendiri beban ekonomi akibat membantu masyarakat dalam keadaan darurat karena terdapat mekanisme pembayaran oleh pemerintah.

Bagi Hilarius, pendekatan seperti itu membuat pemerintah desa lebih leluasa merespons persoalan warga.

Pengalaman di Ladolima menunjukkan bahwa kebijakan tanggap darurat akan terasa manfaatnya ketika dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang sederhana di tingkat masyarakat: ketika warga membutuhkan makanan, tersedia tempat untuk mendapatkannya; ketika bantuan belum tiba, warga tidak dibiarkan menunggu tanpa kepastian.

Dalam situasi pascagempa Flores, kehadiran negara dengan demikian tidak hanya terlihat dari bantuan yang datang dalam bentuk truk logistik. Kehadiran itu juga dapat dirasakan melalui kebijakan yang memungkinkan warga bertahan sejak hari pertama, sekaligus memberi aparat desa alat untuk bergerak cepat menghadapi kebutuhan masyarakatnya. (/llt)