KUPANG - Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan pentingnya kepemimpinan sekolah yang mampu mendorong peningkatan budaya akademik, pembentukan karakter, serta produktivitas dan jiwa kewirausahaan peserta didik sebagai bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia NTT menghadapi masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Gubernur saat membuka Diklat Bakal Calon Kepala Sekolah SMA/SMK/SLB se-NTT Tahun 2026 bertempat di Hotel Pelangi Kupang, pada Senin (5/10/2026).
Diklat ini menjadi momentum penting dalam menyiapkan regenerasi pemimpin pendidikan yang tidak hanya memiliki kemampuan manajerial, tetapi juga mampu membawa perubahan nyata di lingkungan sekolah.
“Kita membutuhkan kepala sekolah yang tidak hanya kuat secara administratif, tetapi mampu membangun budaya akademik yang baik, membentuk karakter peserta didik, dan mendorong mereka menjadi generasi yang produktif serta memiliki jiwa kewirausahaan,” kata Gubernur Melki.
Menurut Gubernur, sekolah harus menjadi ruang yang mendorong peserta didik untuk berprestasi secara akademik sekaligus memiliki karakter kuat, kreativitas, kemandirian, dan kemampuan menghasilkan sesuatu yang produktif.
Karena itu, kepala sekolah dituntut menjadi pemimpin pembelajaran sekaligus penggerak perubahan. Guru harus diberdayakan, peserta didik didengar, orang tua dilibatkan, dan masyarakat dirangkul agar sekolah mampu berkembang sesuai tantangan dan potensi daerah.
“Keberhasilan siswa/i juga ditentukan oleh kualitas guru, kualitas guru juga ditentukan oleh kualitas kepala sekolah.
Guru harus diberdayakan, peserta didik harus didengar, orang tua harus dilibatkan, dan masyarakat harus dirangkul. Kita ingin sekolah menjadi tempat anak-anak NTT tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, mandiri, dan siap menghadapi masa depan,” ujar Gubernur.
Ia mengingatkan para calon kepala sekolah agar tidak memandang jabatan sebagai tujuan, melainkan sebagai kesempatan untuk memberikan pelayanan dan menciptakan perubahan.
“Jangan jadikan jabatan sebagai tujuan, tetapi jadikan kepemimpinan sebagai kesempatan untuk melayani,” tegasnya.
Ia mendorong calon kepala sekolah untuk mengubah pola pikir kepemimpinan dari sekadar memberikan perintah menjadi kepemimpinan yang berorientasi pada pemecahan masalah dan peningkatan kualitas sekolah.
“Ketika menjadi kepala sekolah, jangan hanya bertanya, ‘Apa yang harus saya perintahkan?’ Tetapi bertanyalah, ‘Apa yang dapat saya lakukan agar guru mengajar lebih baik, peserta didik berkembang lebih baik, dan sekolah menjadi lebih baik?’” katanya.
Bagi Gubernur Melki, penguatan kepemimpinan sekolah menjadi semakin penting karena kondisi geografis dan sosial NTT yang beragam membutuhkan pemimpin pendidikan yang kreatif, adaptif, inovatif, dan mampu melihat keterbatasan sebagai peluang.
Semangat tersebut sejalan dengan arah pembangunan Dasa Cita “Ayo Bangun NTT”, khususnya cita ke-10 mengenai pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan yang berkualitas serta penguatan kolaborasi dalam pembangunan daerah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Ambros Kodo dalam laporannya menjelaskan, sasaran Diklat Bakal Calon Kepala Sekolah Tahun 2026 adalah guru atau calon kepala sekolah yang telah lulus seleksi substansi, baik yang sudah dilantik pada 25 Maret 2026 maupun yang belum dilantik.
“Jumlah sasaran keseluruhan sebanyak 294 orang, yang terbagi dalam Tahap I sebanyak 159 orang dan Tahap II sebanyak 135 orang,” jelas Ambros.
Para peserta tersebut berasal dari 22 kabupaten/kota se-Provinsi NTT.
Untuk Tahap I, sebanyak 159 peserta mengikuti rangkaian diklat yang terdiri atas 94 peserta dari SMA Negeri, 7 peserta SMA Swasta, 42 peserta SMK Negeri, lima peserta SMK Swasta, dan 11 peserta SLB Negeri.
Ambros menjelaskan, pelaksanaan diklat dilakukan melalui dua tahapan.
Tahap pertama berupa orientasi dan pelatihan secara daring melalui Learning Management System (LMS) yang telah dilaksanakan pada 26 September–2 Oktober 2026 dari tempat tugas atau domisili masing-masing peserta.
Selanjutnya, tahap kedua berupa pelatihan secara luring pada 3–12 Oktober 2026 yang dilaksanakan di Hotel Pelangi Kupang, Jalan Veteran Fatululi, Kota Kupang.
Pelaksanaan dalam dua tahapan tersebut dirancang untuk memberikan pembekalan yang komprehensif kepada para calon kepala sekolah, baik melalui pembelajaran digital maupun interaksi dan pelatihan secara langsung.
Saat ini terdapat 1.045 kepala sekolah SMA, SMK, dan SLB se-NTT, terdiri atas 401 kepala sekolah SMA Negeri, 228 SMA Swasta, 184 SMK Negeri, 183 SMK Swasta, 36 SLB Negeri, dan 13 SLB Swasta.
Data tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan terhadap regenerasi kepemimpinan pendidikan yang berkualitas dan berintegritas.
Melalui diklat ini, Pemerintah Provinsi NTT berharap lahir pemimpin-pemimpin sekolah yang mampu memperkuat budaya akademik, membangun karakter peserta didik, serta mendorong kreativitas, kemandirian, dan produktivitas generasi muda.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi generasi NTT yang cerdas, berkarakter, kreatif, mandiri, produktif, dan mampu menciptakan peluang bagi dirinya serta masyarakat.
“Ketika kita membangun sekolah, sesungguhnya kita sedang membangun masa depan Nusa Tenggara Timur,” tutup Gubernur.
